Membangun Kesadaran akan Urgensi Literasi Digital untuk Pemilu 2024 yang Damai

logo-18

Kabar Aksaramaya

Urgensi literasi digital dalam membantu mewujudkan pelaksanaan pesta demokrasi dan kontestasi politik secara damai dalam perhelatan Pemilu 2024 itu sangat dibutuhkan. Sebab dengan menyelenggarakan kegiatan literasi digital, hal tersebut dapat secara efektif menangkal segala bentuk konten negatif dalam rangka mewujudkan Pemilu yang aman dan damai.

Menurut Menkominfo Budi Arie Setiadi mengatakan, bahwa kebutuhan akan literasi digital sekarang ini semakin nyata, utamanya di Tengah-tengah suasana penyelenggaraan Pemilu yang dihadapi masyarakat Indonesia. Semakin banyaknya konten-konten yang melanggar peraturan perundangan, mengandung disinformasi, dan misinformasi sangat mudah beredar di tengah masyarakat ketika Pemilu.

Bahkan, konten yang bermunculan tersebut berisikan informasi yang tidak benar atau hoaks terus beredar. Sebagai contoh, pada 17 Januari 2024 lalu, ada unggahan video mengenai kotak suara ganda di Makassar, yang merupakan upaya manipulasi kepercayaan masyarakat terhadap institusi Pemilu.

Guna menanamkan kewaspadaan dan menyelamatkan masyarakat dari serangan berita hoaks dan konten negatif lainnya, Pemerintah melalui Kemenkominfo terus menerus mengadakan gerakan literasi digital yang berfokus pada empat pilar utama. Sebab, urgensi literasi digital di zaman sekarang ini sangatlah penting.

Pilar dalam literasi digital tersebut, di antaranya seperti digital skills, digital safety, digital culture, dan digital ethics. Selain itu, ada beberapa langkah-langkah sederhana yang bisa diaplikasikan bagi masyarakat supaya tidak mudah menjadi korban berita hoaks.

Pertama, masyarakat harus membaca dengan perlahan dan hati-hati setiap informasi yang diterima, utamanya dari sosial media. Kedua, masyarakat diharapkan bisa melakukan pengecekan kebenaran informasi tersebut dan jika informasi itu salah, jangan disebarluaskan, terutama yang mengandung isu sensitif seperti Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA).

Sedangkan, Indriyanto Banyumurti selaku Direktur Information and Communication Technology (ICT) menyampaikan, bahwa Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (Mafindo) menemukan hoaks sebanyak 646 terkait Pemilu yang tersebar di sosial media sepanjang tahun 2023.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat belum mampu menjaga diri dari paparan berita bohong di sosial media. Sebab beberapa warga masih mengasumsikan bahwa informasi yang masuk ke internet atau sosial media itu ialah nyata.

Padahal sebenarnya dalam sosial media atau internet, setiap orang punya kesempatan yang sama untuk menjadi produsen informasi atau penyebar berita bohong. Selain itu, dalam sosial media juga ada algoritma filter bubble, yang menyaring berbagai informasi supaya pengguna betah berlama-lama di platform tersebut.

Adapun kinerja dari filter bubble ialah dengan menyatukan informasi yang disukai pengguna dan membuang informasi yang tidak disukai. Jadi maksudnya, asupan informasi seseorang tergantung dari preferensinya masing-masing.

Maka dari itu, masyarakat dianjurkan untuk tetap bersikap positif di sosial media supaya terhindar dari konten negatif, termasuk penyebaran berita-berita hoaks. Guna mengetahui apakah informasi yang diperoleh tersebut hoaks atau bukan, masyarakat bisa menggunakan logika yang kuat.

Hoaks umumnya menyerang dan memainkan emosi seseorang terlebih dahulu. Oleh karena itu, masyarakat harus lebih teliti, hati-hati, dan berpikir kritis saat menerima informasi, terutama dari sosial media.

Agar tidak terjadi perpecahan dan menjaga kedamaian, maka urgensi literasi digital menjadi sangat penting untuk terus digaungkan dan dimiliki masyarakat. Literasi digital akan  bermanfaat dalam membantu masyarakat terhindar dari penyebaran hoaks, menjaga kesatuan dan persatuan bangsa ini selama masa Pemilu. Salam Literasi!

Daerah Anda ingin mengembangkan budaya literasi melalui platform teknologi perpustakaan digital? Hubungi partnership@aksaramaya.com atau 0859106725577