Menelaah Pentingnya Literasi Lingkungan untuk Pendidikan Karakter Anak

logo-18

Kabar Aksaramaya

Pada era teknologi abad 21 ini, anak-anak dituntut untuk menguasai berbagai ragam informasi dan materi pengetahuan. Maka dari itu, mereka harus bisa menguasai keterampilan literasi pada tiap jenjang atau bahkan tiap pembelajarannya, supaya mampu mengakses pengetahuan. 

Literasi yang diterapkan sekarang, bukan cuma terpaku pada literasi membaca atau menulis saja. Namun, literasi sudah mengalami banyak perkembangan dari segi definisi ataupun penerapannya. Bahkan, literasi menunjukkan paradigma baru dalam upayanya memaknai literasi dan pembelajaran.

Seperti saat ini literasi sudah merambah pada praktik kultural yang berkaitan dengan persoalan kehidupan sosial maupun politik. Oleh karena itu, kini ungkapan literasi mempunyai banyak variasi, seperti literasi computer, literasi media, literasi sains, literasi sekolah, literasi lingkungan dan lain sebagainya.

Adapun, literasi lingkungan merupakan kemampuan seorang individu dalam memahami dan menafsirkan kondisi lingkungan, sehingga dari hasil pemahaman dan penafsiran tersebut maka akan ada sebuah keputusan ataupun tindakan yang tepat dalam mempertahankan, memulihkan serta meningkatkan kondisi lingkungan.

Memberikan stimulus kemampuan individu di dalam memahami kondisi lingkungan sekitar. Maka, literasi lingkungan juga akan memberikan dampak positif dari pendekatan lingkungan yaitu anak-anak bisa terpacu sikap rasa ingin tahunya tentang sesuatu yang ada di lingkungan.

Berkat tumbuhnya karakter siswa dalam literasi lingkungan, maka hal tersebut digunakan untuk mempersiapkan diri supaya sadar akan lingkungan, sehingga bisa mengatasi masalah yang ada disekitar.

Sikap sadar tersebut diartikan pula sebagai sikap peduli lingkungan, dimana tidak hanya mempunyai pengetahuan terhadap lingkungan tetapi juga memiliki sikap tanggap dan mampu memberikan solusi solutif atas isu-isu lingkungan. 

Pendidikan literasi lingkungan hendaknya ditanamkan pada anak-anak, terkhususnya pada lingkungan pendidikan formal (sekolah) sejak dini agar tertanam kuat. Pengintegrasian tersebut, tentunya akan berhubungan dengan kesesuaian dengan kurikulum yang berlaku di lingkungan pendidikan formal (sekolah) khususnya untuk pembelajaran IPA.

Sebab, pembelajaran IPA tidak terlepas dari praktik yang dilakukan secara langsung, sehingga siswa mengalami sendiri pengalaman pengetahuan yang telah dipelajarinya. Pengalaman tersebut akan lebih bermakna dari pada pengetahuan yang hanya sekedar dibaca, sehingga siswa mampu menerapkan apa yang dipelajarinya di kehidupannya sehari-hari. 

Pembelajaran IPA di sekolah diharapkan tidak hanya mengajarkan konsep saja, akan tetapi juga adanya tindakan nyata dari konsep tersebut utamanya konsep-konsep yang berhubungan dengan lingkungan. Selain itu, hendaknya pembelajaran IPA juga mampu menyajikan konsep-konsep IPA dalam bentuk pengalaman terkait lingkungan sekitar dalam penanaman pendidikan berkarakter.

Pada umumnya pendidikan karakter lebih menekankan pada keteladanan, penciptaan lingkungan dan pembiasaan-pembiasaan melalui berbagai tugas keilmuan dan kegiatan kondusif. Dengan demikian, apa yang didengar, dilihat, dirasakan dan dikerjakan oleh anak-anak dapat membentuk karakter mereka.

Selain menjadikan keteladanan dan pembiasaan sebagai metode utama dalam menumbuhkan karakter anak lewat literasi lingkungan. Ternyata, penciptaan iklim dan budaya serta adanya dukungan lingkungan yang kondusif juga sangat penting, dan turut membentuk karakter anak-anak. Salam Literasi!

Daerah Anda ingin mengembangkan budaya literasi melalui platform teknologi perpustakaan digital? Hubungi partnership@aksaramaya.com atau 0859106725577